AKU terlahir dari keluarga sederhana. Ibu masuk Islam saat menikah dengan Ayah yang pemahaman agamanya a la
kadarnya. Yang kami tahu, Islam adalah syahadat, sholat, puasa, zakat,
haji dan berbuat baik. Karena terbiasa bergaul dengan laki-laki dan
segala permainannya ( kakak dan adikku laki-laki) membawaku tumbuh besar
sebagai gadis tomboy yang lebih suka memakai hem dan celana panjang,
rambut tergerai lepas atau diikat sekadarnya.
Saat kuliah, aku satu kost dengan anak-anak Politeknik Undip
(sekarang Polines) yang rata-rata bergamis dan berjilbab lebar. Mereka
sering mengajakku ikut kajian di masjid kampus, meminjamkan sebuah
kerudung segi empat dan mendandaniku begitu rupa. Aku sih mau saja,
daripada bengong sendirian di tempat kost.
Semester dua aku harus masuk di asrama kampus Akper Depkes Semarang
(sekarang Poltekes). Kutinggalkan tempat kost namun kebersamaan dengan
anak-anak Politeknik tetap terjalin, kami masih sering kajian bersama
walau di keseharian kepalaku belum tertutup, terlebih kampus membatasi
dengan aturan seragam yang tak sesuai syariat.
Semester berikutnya, aku datang ke asrama dengan setelan hem dan rok
panjang dengan kerudung pendek menutupi kepala. Seisi asrama memandang
aneh padaku, yang perempuan memandangku sinis dan berkata,”cari sensasi
ya.”
Aku hanya mengelus dada, menghilangkan gelegak tak suka yang mulai
melesak dalam dada. Perempuan memang selalu nyinyir bila melihat sesuatu
yang tak mereka suka, itu keyakinanku sejak kanak-kanak walaupun aku
juga perempuan. Anak-anak Politeknik itu? Tentu saja mereka berbeda.
Mungkin karena sudah lebih dulu belajar memahami agama, pikirku.
Selalu ada oase di padang pasir, begitu pun di asrama. Kaum
laki-lakinya justru memberi selamat dan menguatkan niatku untuk menutup
aurat. Salah seorang di antara mereka berkata,” barokallah ukhti…semoga
pakaian seperti ini melekat padamu sejak sekarang dan seterusnya.”
Kalimat itu cukup membuatku malu. Tidak cukup berhenti di situ,
mereka juga memberikan buku-buku keakhwatan. Hari demi hari, pemahamanku
tentang agama ini bertambah. Beberapa gadis mengikuti jalanku. Dengan
dukungan mereka pula, kami berupaya memperjuangkan pakaian seragam yang
menutup aurat. Tak mudah memang, namun kuyakini selalu ada jalan keluar.
Begitu banyak cobaan, kami harus membuat proposal dan membawanya ke
semua dosen untuk mendapatkan dukungan. Banyak penolakkan, namun tak
sedikit pula dukungan. Pihak kampus melunak, kami diperbolehkan menutup
aurat saat perkuliahan di kampus. Untuk jam-jam praktik di rumah sakit,
puskesmas dan sejenisnya kami tetap diharuskan memakai seragam lama,
astaghfirullahul adhiim. Kami bergeming untuk tidak membuka kembali
aurat, apapun resikonya.
Suatu hari, kudapati Ibu menunggu di kamar dengan wajah penuh amarah. Kiranya terkirim telegram yang isinya menyesakkan dada.
“Harap segera datang untuk pembinaan putri anda.”
Ibu mengira putrinya melakukan perbuatan asusila dan mencoreng nama
baik keluarga. Susah payah kujelaskan semua, memohon pengertiannya.
Kutahan air mata dan segenap gundah gulana saat Ibu mengancam tidak mau
mengakui darah dagingnya. Pasrah, kutumpahkan semua luka di ujung
sajadah sepanjang malam. Mohon kekuatan agar sabar dalam ujian.
Teman-temanku berguguran, tinggal kami berenam yang masih teguh pendirian. Akibatnya, kami tidak diperbolehkan ikut ujian akhir.
Allah tiada membiarkan hamba teraniaya. Ada yang membawa kasus kami
ke depkes. Di titik akhir, kami diperbolehkan ikut ujian susulan dan
lulus pada waktunya. Alhamdulillah, semua ini karena cinta-Nya





0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah mengunjungi my Blog semoga bermanfaat